Kamis, 11 Maret 2010

Obati Suami Selingkuh dengan Selingkuh

Obati Suami Selingkuh dengan Selingkuh  

BANYAK cara dilakukan orang demi kesuksesan dalam hidupnya. Mau cepat
mendapat jodoh, ingin kaya mendadak, dan ingin mempunyai suami atau istri yang
taat dan setia. Mereka meyakini, ziarah atau bersemedi di sebuah tempat yang
dianggap keramat adalah salah satunya. Seperti pengalaman seorang ibu rumah
tangga di bawah ini. Ia mengakui suaminya suka selingkuh, ia datang ke Kemukus
ingin mengobati suaminya. Berhasilkah?


ayah

RINA(35) ibu rumah tangga, baru saja pulang dari Kemukus, Sragen, Jawa Tengah,
bertemu di atas kereta api (KA) jurusan Surabaya-Bandung dengan penulis.

"Abis nengok keluarga, Bu?"

Rina menggelengkan kepala.

"Belum tahu Kemukus?" tanyanya.

Giliran penulis yang menggelengkan kepala.

Lalu, Rina yang bertubuh sintal berkulit sawo matang itu, menceritakan perihal
Kemukus. Katanya, Kemukus itu sebuah makam keramat, terletak di tengah pulau
kecil yang dikelilingi Waduk Kedungombo.

"Di sana ada makam keramat Pangeran Samudro," kata Rini.

Penulis hanya melongo karena (waktu itu) belum mengetahui Kemukus. Rina
menjelaskan lebih rinci lagi, katanya Kemukus itu tempat orang meminta
pertolongan karena kesusahan.

"Kesusahan apa saja, tetapi kebanyakan perihal perjodohan," tutur Rina. Lalu
dia juga bercerita, katanya banyak yang datang ke sana lalu sukses dalam
perjuangannya. Yang ingin mempunyai jodoh mendapatkannya, yang ingin naik
pangkat pasti naik pangkat, dan yang ingin lancar usahanya, juga sukses. Ada
juga yang ingin berhaji, maka sesudah memenuhi berbagai persyaratan di Kemukus,
akhirnya bisa naik haji ke Mekah.

"Hanya saja, ada salah satu persyaratan yang cukup berat," kata Rina sambil
memakan pecel Madiun di atas KA yang tengah melaju.

"Apa itu?" tanya penulis.

"Harus melakukan persetubuhan dengan pasangan lain muhrim di kompleks makam!"

"Astaga, di kompleks makam?" penulis kaget dibuatnya.

Rina melanjutkan lagi penjelasannya. Memang di kompleks Makam Kemukus banyak
berdiri bangunan-bangunan sederhana. Di depannya penjual makanan kecil,
sementara di bagian belakang berderet petak-petak kecil. Itu semua untuk
kepentingan "syarat" dalam memohon keinginan.

Kalau Jumat Kliwon, apalagi bulan Suro, petak-petak kecil itu penuh sesak tiada
bersisa.

"Lalu yang ingin melaksanakan syarat, terpaksa melakukannya di sela-sela pohon,
di atas hamparan tikar."

Wow !

"Mbak Rina kok hapal betul?" tanya penulis tiba-tiba. Maka sambil tersenyum
kecil, Rina menjelaskan dengan bergumam dan pelan.

"Saya sudah tujuh kali ke sana ..."

"Tujuh kali? Maksud Mbak Rina?"

"Ya... tujuh kali melakukan persyaratan..."

Ceritanya, Rina ini dari Cimahi punya keluhan. Dia punya suami yang kerap
melakukan perselingkuhan dengan wanita lain. Kerjanya gonta-ganti pacar bahkan
istri. Pernah dituntut menikahi seorang janda lantaran sang janda hamil.

"Saya repot mengurusnya. Mau minta cerai, kasihan anak-anak. Tetapi selama itu,
hidup tersiksa. Terkadang saya disatroni istri muda tanpa saya tahu
permasalahan sejak awal..." tutur Rina.

Entah dari mana mendapat informasi, tahu-tahu Rina sudah datang ke Kemukus.
Hanya karena ada informasi bahwa setiap keinginan bakal terkabul asal penuhi
persyaratannya yaitu melakukan persetubuhan dengan yang bukan muhrim di
kompleks makam, maka demi "keharmonisan" keluarga, Rina menjalani "ziarah" ke
Kemukus.

Rina mengaku, selama tujuh bulan ini, setiap bulan datang ke Kemukus dan di
sana bertemu teman perselingkuhan.

Teman perselingkuhannya lelaki asal Jatim yang juga punya masalah sama, yaitu
dikhianati istrinya. Keduanya bertemu dan bersedia memenuhi "syarat" tanpa
saling merugikan karena punya penderitaan yang sama. Yang satu dikhianati
suami, satunya lagi dikhianati istri namun keduanya sama menginginkan hidup
harmonis dengan pasangan sah masing-masing.

"Gimana, sukses, Mbak?" tanya penulis masih bengong.

"Saya belum mendapatkan hasil yang maksimal, sebab kemarin 'kan baru selesai
persyaratan yang tujuh kali itu. Namun, gejalanya sudah kelihatan," kata Rina
tersenyum kecil.

Maksudnya, akhir-akhir ini, sang sumai yang semula rajin berselingkuh sudah
mulai gemar tinggal di rumah. Dia pergi keluar selama jam kerja saja dan pulang
ke rumah pada saat jam kerja selesai pula.

"Mudah-mudahan ini berkat hasil pengorbanan saya selama di Kemukus," tutur Rina.

Ya, tentu dia banyak berkorban. Bayangkan, selama tujuh kali berturut-turut dia
mesti berhubungan intim dengan lelaki asing yang baru dikenalnya di Kemukus
sana.

KA Surabaya-Bandung sudah hampir masuk Cicalengka, malam menjelang pukul 22.00.
Rina pun sudah gelisah ingin lekas tiba di Stasiun Kiaracondong untuk kelak
dilanjutkan ke Cimahi.

Selama Rina gelisah, penulis bahkan banyak berceloteh kendati hanya di dalam
hati. Sungguh aneh memang. Ada yang inginkan suami jujur namun dilakukan dengan
kerja-kerja tak jujur pula. (sebagaimana dipaparkan kepada aan merdeka
permana)**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar